ANJURAN DAN PELAKSANAAN IBADAH MENYAMBUT LAILATUL QADAR

 


Minggu 24 April 2022

Al-Quran Dan Lailatul Qadar
Q.S Ad-Dukhan: 3 – 4 
Artinya: 
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al – Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kami – lah yang memberi peringatan,
 Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”
Q.S Al – Qadar: 1 – 5 
Artinya: 
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al – Qur’an) pada malam kemuliaan,
Dan tahukan kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan,
Pada malam itu,
Turunlah malaikat – malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya,
Untuk mengatur segala urusan,
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” 
Al – Baqarah: 185
Artinya:
“bulan ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al – Qur’an.”

Proses Diturunkannya Al – Qur’an 
AL – Qur’an diturunkan sekaligus secara lengkap dari Lauh Mahfudz ke langit dunia (Baitul – Izzah).
Al – Qur’an diturunkan secara berangsur – angsur kepada nabi selama 23 tahun (13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah)
Waktu Ayat Pertama Turun
Bulan Ramadhan: Al – Baqarah 185
Hari senin: Hadist tentang puasa hari ini Nabi SAW. pernah ditanya tentang puasa hari senin, kemudian beliau menjawab: “itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan diturunkan kepadaku wahyu.”
Sheikh Shofiyur – Rohman Al – mubarokfuri mengatakan dalam kitab Siroh Nabawi karagannya al – Rahiul – Makhtum:
“setelah melakukan penelitian yang cukup dalam, mungkin dapat disimpulkan bahwa hari itu ialah hari senin tanggal 21 bulan Ramadhan malam. Yang yang bertepatan pada tanggal 10 Agustus 660 M, dan ketika itu umur Rasul SAW. tepat 40 tahun 6 bulan 12 hari hitungan bulan, tepat 39 tahun 3 bulan 12 hari hitungan matahari. 
 Hari senin pada bulan Ramadhan tahun itu ialah antara 7,14,21,24,28, dan daribeberapa riwayat yang shohih bahwa malam lailatul qodar itu tidak terjadi kecuali di malam – malam ganjil dan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
 Jika kita bandingkan dengan firman Allah Surat Al – Qadar ayat pertama dengan hadist Abu Qatadah yang menjelaskan bahwa wahyu diturunkan hari senin, dan dengan hitungan tanggalan ilmiah tentang hari senin pada bulan Ramadhan tahun tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa wahyu pertama turun kepada Rasul SAW. itu tanggal 21 Ramadhan malam.  
Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar
Imam Ibnu Kastir (W. 774 H) dalam kitabnya Al – Bidayah wan – Nihayah:
Al – Waqidi meriwayatkan dari Abu Ja’far Al – Baqir yang mengatakan bahwa “wahyu pertama kali turun pada Rasul SAW. pada hari senin 17 Ramadhan dan dikatakan juga pada 24 Ramadhan”. 
Malam lailatul qadar yang disebut sebagai malam turunnya al – qur’an adalah benar, 

Waktu Lailatu Qadar
“carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir bulan ramadhan” H.R. no. 2020 dan Muslim, no.1169
“carilah lailatul qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan. HR. Bukhari, no. 2017
Tandan – Tanda Lailatul Qadar
Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tuju dari bulan ramadhan. Tanda – tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim, no 762)
“lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu cerah dan tampak kemerah – merahan.” (HR. Ath – Thayalisi dan Al – Baihaqi dalam sya’bul Iman; lihat Jami’ul Ahadits, 18:361; Syaikh Al – Albani mengatakan bahwa hadist ini shahih; lihat Shahihul Jami’ , no. 5475)
Cara Menghidupkan Malam Lailatul Qadar
Aisyah menceritakan, “Rasulullah sangat bersungguh – sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan melebihi kesungguhan beliau pada waktu yang lainnya (HR. Muslim, no 1175)
Aisyah mengatakan “apabila Nabi memasuki sepuluh hari terakhir (bulan ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam – malam tersebut, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari, no 2024 dan Muslim, no. 1174)
Barang siapa yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan iman dan ihtisab (mengharapkan pahala), niscaya Allah mengampuni dosa – dosanya yang telah lampau (HR. Bukhari, no. 1901)
Memperbanyak dzikir dan doa
Memperbanyak tilawatil Al – Qur’an
Melaksanakan shalat
I’tikaf 
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ia berkata “Rasulullah saw biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari, no. 2025 dan Muslim, no. 1171). 
I’tikaf bersifat sunnah bukan wajib ataupun syarat.
I’tikaf Wanita 
Jumhur ulama berpendapat bahwa yang namanya I’tikaf itu tidak sah kecuali jika dilaksanakan di masjid. (Dan kamu dalam keadaan beri’tikaf di dalam masjid.” (Q.S Al – Baqarah : 187))
Kemudian apabila diperkuat dengan apa yang dilakukan oleh istri –istri Nabi Muhammad SAW. yang meminta izin I’tikaf di masjid, lalu Aisyah mendirikan semacam bilik untuknya beri’tikaf di masjid. Ini yang diriwayatkan oleh Imam Ibn Hibban dan kitab hadistnya, Shahih Ibn Hibban (Bab kebolehan I’tikaf wanita di masjid bersama suaminya)
Dalam kitab Tabyiin al – Haqaiq (1/350) Imam al – Zalla’iy dari kalangan al – Hanafiyah menjelaskan: (Imam an – Nasafi rahimatullah) mengatakan seorang wanita beri’tikaf di masjid rumahnya; karena memang itu adalah tempat shalat baginya, maka sah saja beri’tikaf di dalam masjid rumah tersebut. akan tetapi jika wanita itu beri’tikaf di masjid Jami’ itu juga boleh, akan tetapi yang pertama (I’tikaf di dalam masjid rumah) lebih afdhal. Dan masjid desanya lebih baik dibandingkan masjid katanya. 

Begadang atau Tidak
Hadist nabi yang diriwayatkan oleh Ustman Bin Affan : “Siapa yang shalat isya secara berjamaah maka ia seperti orang yang menghidupkan setengah malamnya, dan barang siapa yang shalat subuh secara berjamaah ia sepeti orang yang menghidupkan seluruh malamnya” (HR. Muslim, No. 1049)
Syeikh Shofiyirrahman Al – Mubarakafuri (1414 H), Ulama india penulis Siroh Nabawihyah fenomenal “Al – Rohiq Al – Makhtum” berkomentar dalam kitabnya “Mir’atul Mafatih Syahrul Misyakat al – Mashabih” (6/405) beliau mengatakan “Memang Ulam tidak satu suara dalam masalah ini, tetapi secara zahirnya orang yang hanya shalat isya’ berjamaah telah disebut sebagai orang yang menghidupkan malam. Berarti ia juga mendapat keutamaan lailatul qadar karena telah menghidupkan malamnya. Tetapi juga dikatakan oleh imam Al – Khirmani bahwasannya seseorang tidak disebut sebagai menghidupi malam jika tidak bangun sepanjang malam atau sebagian besar malam.  

Komentar

Postingan Populer