"Menerapkan Strategi Rosulullah SAW Dalam Mengembangkan Masyarakat Di Era Milenial"


 Merujuk pada konteks Uswatun Hasanah dalam kajian tafsir, yang disebut Uswatun Hasanah yaitu seluruh perbuatan atau mengharuskan kita untuk mengikuti terhadap perbuatan itu, baik dalam setiap sikapnya dan dalam setiap perbuatannya. Artinya berbagai karakter atau yang nampak di dalam diri Rosulullah SAW dalam hal perbuatannya khususnya dalam konsep dakwah yang dilakukan oleh Rosulullah SAW itulah yang harus kita lakukan. Hal itu diterapkan apabila kita berbicara tentang konsep dakwah atau pengembangan masyarakat, karena mencontoh Rosulullah SAW itu tidak lepas dari pembahasan dakwah baik itu pemberdayaan, ataupun pengembangan dan lain sebagainya itu merupakan bagian dakwah yang dilakukan.

 Allah SWT berfirman dalam potongan ayat Al-Qur’an dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11 bahwa “ ….Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri….” Firman Allah SWT tersebut menunjukkan alasan Allah SWT mengutus nabi dan Rosul agar membimbing suatu kaum untuk berbuat yang benar hingga terjadi perubahan yang lebih baik. Disatu sisi yang lain menunjukkan bahwa kita membentuk atau mengembangkan pola kehidupan masyarakat itu tidak bisa secara instan dengan hanya mengandalkan pada do’a saja tetapi harus ada usaha turun tangan, itulah pentingnya berdakwah. 

 Begitu pun dengan Rosulullah SAW saat menerima wahyu dari Allah SWT, yang tentu tidak mudah karena selalu ada ujian, baik itu ujian kematian salah satu keluarganya ataupun ujian caci maki hingga terancam dibunuh oleh kau kafir Quraisy. Dalam hal tersebut kita dapat mengartikan arti tawakkal itu setelah kita melakukan usaha dan daya upaya yang luar biasa keras.

   Di tahun 621 M Rosulullah SAW berdakwah ke Madinah menjadi salah satu prototipe atau yang layak kita contoh dalam konteks masyarakat. Lantas kenapa saat di Madinah? Karena titik paling sukses Ketika Rosulullah SAW berdakwah adalah ketika memulai berdakwah di Madinah. Justru ketika 13 tahun Rosullullah SAW tinggal di Makkah tidak begitu signifikan apa yang beliau sampaikan, hal itu apabila dikaji lebih dalam lewat ulumul Qur’an titik-titik ayat yang disampaikan oleh Rosulullah SAW atau yang diturunkan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril dan disampaikan pada Rosulullah SAW kemudian diberitahukan kepada masyarakat, itu hanya berbicara tentang keimanan, tauhid dan belum menyentuh pada aspek-aspek ibadah. 

 Jika diklarifikasikan oleh para ulama, terdapat beberapa konsep yang ditawarkan oleh Al-Qur’an secara utuh yang didakwahkan oleh Rosul pada masyarakat Makkah dan Madinah yang pertama itu adalah spiritual atau keimanan, yang kedua adalah doktrinal yang berisikan ibadah, syari’at, mu’amalat, munakahat dan lain sebagainya. Yang ketiga adalah sosial, tentang kemasyarakatan seperti bagaimana kita bersosial atau bergaul, yang ke empat adalah edukasional yaitu tentang pendidikan yang kelima adalah respon experiential dan yang terakhir tentang etika atau akhlak dan enam hal itulah yang terkandung dalam Al-Qur’an yang disebarkan oleh Rosul dan hal tersebut menjadi pedoman strategi Rosulullah SAW dalam berdakwah. 

 Dalam point pertama yaitu tentang spiritual atau keimanan Rosul sudah sejak awal di Makkah menyebarkan hal tersebut. artinya lima konsep yang ditawarkan oleh Al-Qur’an sebagai strategi Rosul dalam membangun masyarakat dihabiskan di Madinah. Sehingga saat itulah titik awal Rosulullah SAW membangun peradaban masyarakat. Oleh karenanya masyarakat yang bagus itu disebut dengan masyarakat Madani yang berasal dari kata Madinah,yang artinya aman, tentram, sentosa yang didambakan masyarakat Madinah. 

  Yang pertama kali dilakukan Rosulullah saat berdakwah di Madinah adalah mendirikan masjid Kubah untuk dijadikan sandaran bagi orang-orang muslim atau bisa dikatakan sebagai titik pusat peradaban, itu dilakukan di masjid. Bahkan, mengatur strategi perang pun Rosulullah SAW melakukan musyawarahnya di masjid. 

  Selain mendirikan masjid sebagai salah satu startegi Rosulullah SAW dalam membangun masyarakat Madinah. Rosulullah SAW juga melakukan strategi lainnya seperti membangun komunikasi, membuat perjanjian anatara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar dan mempersaudarakan antar golongan. Karena aspek pengembangan masyarakat itu sendiri terdiri dari Enabling yang artinya menciptkan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat bisa berkembang, kemudian ada Empowering yaitu Memperkuat potensi masyarakat melalui langkah-langkah nyata yang menyangkut penyediaan berbagai input dan pembukaan dalam berbagai peluang yang akan membuat masyarakat semakin berdaya dan yang terakhir Protecting yaitu melindungi dan membela kepentingan masyarakat.

 Adapun prinsip dasar model pengembangan masyarakat berbasis dakwah Rosulullah SAW yaitu berorientasi pada kesejahteraan lahir bathin masyarakat luas dan Social engenering; Rekayasa sosial untuk mendapatkan perubahan tatanan kehidupan sosial yang lebih baik. Kemudian unsur-unsur penting dakwah diantaranya;

1. Subjek dakwah, apabila dibandingkan model dakwah pengembangan dengan model dakwah konvensional itu terdiri dari mubaligh, Da’i dan masyarakat. Jadi dalam konsep dakwah pengembangan itu seorang Da’i atau subjek Da’i tidak harus mubaligh, kiyai, atau ustadz, tapi masyarakat setempat pun bisa menjadi subjek dakwah. Sedangkan dalam dakwah konvensional itu hanya terdiri dari Da’i, mubaligh dan ustadz saja, masyarakat hanya berperan sebagai Mad’u.

2. Objek dakwah, dalam konteks dakwah konvensional hanya bertitik tumpu pada masyarakat semata. Sedangkan dalam model dakwah pengembangan terdiri dari kondisi sosio-kultural masyarakat. Jadi dakwah konvensional itu tidak akan peduli dengan kondisi sosio-kultural masyarakat, misalnya datang di suatu tempat kemudia berdakwah menyampaikan kepada masyarakat kemudian selesai tanpa kelanjutan dari penyampaian isi dakwah itu sendiri. Namun jika model dakwah pengembangan harus disertai kondisi sosio-kultural yang bertujuannya agar menemukan atau merumuskan konsep dakwah seperti apa yang akan diberikan kepada masyarakat. 

3. Peran Da’i dalam model dakwah konvensional hanya komunikator agama. Sementara model dakwah pengembangan merupakan fasilitator dan transformator nilai agama, fasilitator ini artinya peran Da’i menyuplai apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sedangkan transformator artinya mampu menghidupkan masyarakat dari yang buruk menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik. 

4. Metode dakwah, metode yang dilakukan model dakwah konvensional lebih banyak tausiyah tetapi dalam model pengembangan lebih kearah dialog dan interaksi sosial. 

5. Materi dakwah, model dakwah kenvensional materi dakwah ditentukan oleh Da’i seperti khutbah dan ceramah. Sedangkan model dakwah pengembangan itu melihat kebutuhan masyarakat yang menjadi tolak ukur dalam membangun materi dakwah.

6. Strategi, dalam konsep konvensial itu bersifat parsial, jadi hanya beberapa yang akan Da’I sampaikan. Sementara konsep pengembangan bersifat menyeluruh dengan melihat kondisi masyarakat dianalisis dan ditelaah untuk menerapkan strategi intergrasi atau holistik.

Kemudian, dalam pembahasan implementasi dakwah Rosulullah SAW dalam pengembangan masyarakat di era milenial ada 3 hal, yang pertama itu tentu tidak lepas dari yang Namanya tauhid, yang tujuannya adalah untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal (egaliter, keadilan, dan kemerdekaan). Yang kedua Pemikiran inovatif, bertujuan untuk melakukan transformasi sosial yang mengubah paradigma berpikir masyarakat terhadap pola keberagamaan yang tertutup, menjadi lebih terbuka. Tertutup disini dari berbagi konsep sepertinya mimbar ke mimbar dan menajadi terbuka seperti di era milenial sekarang ini adanya media komunikasi yag beranekara ragam seperti youtube, zoom metting dan lain sebagainya dan yang terakhir adalah Strategi imperatif yang universal. Tujuannya adalah membangun strategi dakwah yang lebih interaktif, tidak hanya bersifat mimbariyah, lebih dari itu, segala kegiatan yang berunsur amar ma’ruf nahyi munkar adalah dakwah.

Peran Da’i dalam pengembangan masyarakat adalah Muballigh (Communicator) yaitu Tabligh (menyampaikan) adalah media utama Rasulullah dalam menyampaikan risalah agama. Selain itu peran Da’i dalam pengembangan masyarakat adalah Uswah (Role Model) maksudnya komunikator yang baik adalah yang mampu menjadi teladan sehingga bisa menjadi profile excellence dan juga Irsyad (Facilitator) yaitu Peran khas seorang da’I dalam konsep pengembangan adalah handal dalam melakukan pembimbingan.
 

“Generasi Milenial adalah sebutan bagi generasi yang lahir rentang tahun 1980 hingga saat ini, Ketika mereka hidup pada masa arus revolusi teknologi informasi yang sangat cepat. Salah satu strategi dakwah kekinian adalah Dakwah Bil Medsos. Namun demikian, Dakwah Bil Medsos harus tetap memiliki landasan Agama yang kokoh.



Notulensi Divisi Keilmuan

Cirebon, 3 Mei 2021, 15.03


Penulis ; Aenul Lafifah 

#Notulensikajian3

Komentar

Postingan Populer