Membangun Kesadaran Kritis Generasi Muda Melalui Kearifan Budaya Lokal Di Era Global




"Membangun Kesadaran Kritis Generasi Muda Melalui Kearifan Budaya Lokal di Era Global"

​Dalam pembahsan kalo ini terbagi dalam beberapa variabel yaitu kesadaran kritis, generasi muda dan kearifan budaya lokal.
1. Membangun kesadaran kritis,
Paulo Freire merupakan tokoh pendidikan asal Brazil, pada bukunya "Pendidikan Kaum Tertindas" beliau menyampaikan tentang arkeologi kesadaran manusia, dimana tingkat kesadaran manusia itu diruntut menjadi 3 tingkatan.
a. Kesadaran magis, kesadran ini adalah kesadaran yang cenderung mengaitkan kehidupan pada takdir, mitos dan kekuatan superior yang tidak bisa diilmiahkan. Kesadaran magis biasanya melekatkan sesuatu pada aspek diluar manusia.
b. Kesadaran naif, kesadaran naif adalah seseorang sadar ia tertindas, namun memilih mengabaikan dan menerima kondisinya. Kesadaran naif biasanya hanya melekatkan sesuatu pada aspek manusia.
c. Kesadaran kritis, dalam bahasa ilmiahnya adalah mampu berpikir dan bertindak sebagai subjek serta mampu memahami realitas kesadarannya secara menyeluruh. Jadi bisa diartikan bahwa dia mengetahui dan sadar apa yang menimpa dirinya lalu dia mengambil tindakan dari apa yang dia tahu dan dia sadari. Dapat dianalogikan dengan " Dia dicubit dia tahu dicubit oleh siapa, karena apa, lalu dia melakukan perlawanan dari bagaimana tindakan dia setelah mengetahui dia dicubit itu". Kesadaran kritis itu dia sudah dapat melekatkan sesuatu dalam segala hal pada aspek yang disebut sistem dan struktur.
 
Penjelasan terkait 3 tingkatan kesadaran manusia, kesadaran magis biasanya dihinggapi oleh orang-orang desa itu karena ulah salah satu rezim yang pernah berkuasa di Indonesia dan mencengkram penjuru desa hingga outputnya pada hari ini orang-orang desa cenderung dihinggapi oleh kesadaran-kesadaran magis. Berbeda halnya dengan kesadaran naif biasanya dihinggapi oleh orang-orang kota, karena mereka diidentikan dengan orang-orang yang cukup kritis. Dia tahu dan sadar permasalahan tetapi karena sudah menjadi budaya maka outputnya dia menjadi apatis bukan melakukan tindakan, karena hidup di kota yang cukup susah jika melakukan manifestasi dari kesadaran dan apa yang dia tahu mungkin akan berbenturan dengan pekerjaan, penghasilan, karir dan sebagainya. Maka dari itu orang-orang kota cenderung dihinggapi oleh kesadaran-kesadaran naif. Kesadaran kritis biasanya melekat pada pelajar atau mahasiswa, namun pada zaman sekarang kebanyakan mahasiswa pun berkesadaran naif. Sebab menjadi orang yang mempunyai kesadaran kritis itu risikonya cukup besar, contohnya ketika dia melihat suatu ketidak adilan, ketimpangan atau penindasan dia tidak akan bisa untuk diam, dia merasa kalau dia harus melakukan sesuatu dan itu cukup berat ketika dibenturkan dengan zaman sekarang yang sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga untuk kecanduan pada teknologi atau mempunyai hobi bermalas-malasan dibanding membaca atau sebagainya.
 
Titik tertinggi dari kesadaran kritis ini adalah melahirkan kesadaran sosial.
Pada saat mahasiswa akan melakukan advokasi banyak masyarakat yang mencibir "untuk apa melakukan hal seperti itu", namun disisi lain pada saat tidak melakukan advokasi juga tetap mencibir "ini anak mahasiswa pada kemana diem-diem aja" Ini merupakan pola-pola reduksi atau pola-pola degradasi semangat juang mahasiswa dan ini dilakukan secara sistematis dilakukan oleh pemerintah dilakukan lewat budaya dilakukan oleh pengajar tanpa bermaksud mendiskreditkan, dapat dibilang sistem karena jika dianalisa polanya sangat terbaca, sehingga menjanjikan sesuatu dengan sesuatu yang tidak sebanding. Sebenarnya advokasi itu penting bagi orang-orang yang mengalami hal-hal seperti mengalami penggusuran tetapi jangan sampai kita yang melakukan advokasi menjadi mahasiswa yang sok-sokan mengetahui segalanya. Sebenarnya peran kita yang paling penting itu kehadiran kita yaitu untuk menambah masa, kemudian setelah kita belajar dan mengetahui strategis dalam advokasi kita boleh menjadi aktor intelektualnya tetapi tidak sampai menggurui masyarakat.
 
2. Generasi muda,
Generasi memang generasi muda itu memiliki beberapa indikator yang memungkinkan melakukan perubahan lebih dari generasi-generasi yang lain karena biasanya stigma yang melekat pada generasi muda itu mempunyai semangat juang yang tinggi, sedang dalam fase idealisme, karena karena juga generasi muda memiliki mobilitas yang tidak terbatas, tetapi juga ada beberapa peranan tanggung jawab moral yang melekat pada seorang generasi muda (agent of change), (agent of development), (agent of modernisation), (agent of social control) agen-agen ini yang melekat pada generasi muda, jadi tanggung jawab lebih untuk melakukan kesadaran kritis dan pembangunan bagi bangsa. Kalau kita membaca sejarah, sebenarnya banyak sekali yang mengutarakan peran generasi muda terkhusus untuk pembangunan dan berubahan bangsa Indonesia, contohnya gerakan sumpah pemuda yang mencetuskan 3 sumpah dan itu yang membakar semangat juang pemuda pada saat itu. Pada generasi muda saat ini banyak sekali problematika yang melekat, diantaranya adalah infiltrasi kepentingan golongan contohnya pada IAIN ketika kontestasi politik itu menjadi problematika karena bukan lagi mengusung kepentingan bersama tetapi untuk menjadi kepentingan golongan masing-masing.
 
3. Kearifan Budaya Lokal di Era Global
Kearifan budaya lokal di era global, ada begitu banyak problematika yang terjadi di era modernisasi ini, karena ada semacam kesalah pahaman bagaimana cara kita sebagai kaum intelektual sebagai kaum terpelajar mendefinisikan era global pada saat ini dan memanifestasikan bagaimana kita berkompromi dan melakukan adaptasi di era global ini, yang menjadi problematika adalah kita terlalu mengedepankan westernisasi ketimbang melakukan rasionalisasi-rasionalisasi yang lebih perlu dilakukan. Modernisasi menurut Cak Nun atau dengan nama asli Nurcholish Madjid bahwa lebih baik rasionalisasi ketimbang kebarat-baratan, karena ketika berbicara kebarat-baratan kita akan mementingkan apa yang disebut dengan cangkang atau kemasan ketimbang isi, kita lebih mementingkan eksistensi ketimbang resensi.
 
Kemudian pengedepanan rasionalisasi yang begitu marak yang selanjutnya adalah kita dibentuk menjadi manusia yang oportunis, secara tidak sadar kita dicetak untuk menjadi orang-orang yang mengedepankan "apa untungnya buat saya kalau saya melakukan itu" Ketimbang "karena kita sebagai mahasiswa kita seharusnya melakukan pengabdian ke masyarakat kita harus bermanfaat untuk masyarakat". Kemudian oporliberalization, kenapa ada pengedepanan modernisasi yang dimaksud dengan oporliberalization adalah kita cenderung lebih oportunis mendefinisikan kebebasan yang berpihak kepada kita ketimbang menyuarakan kebebasan yang berpihak kepada masyarakat. Misalkan ada dosen yang mengekang kita dan itu mengganggu kenyamanan kita itu kita akan bersuara tetapi ketika terdapat orang-orang yang dibungkam kita cenderung diam dan pasif ini juga bagian dari oportunis sebenarnya tetapi itu juga bagian dari terlalu berlebihan dalam mendefinisikan liberalisasi dan misalkan seperti paham-paham feminisme atau kesadaran perempuan yang cenderung ingin enaknya saja, ini bukan bermaksud mendiskreditkan gerakan perempuan tetapi ada beberapa perempuan yang mengusung fenimisme tetapi terlalu oportunis yaitu hanya mengedepankan kenyamanan pribadi mereka saja, Ini menjadi problematika kenapa pernyataan chainur itu sangat relate dengan generasi muda pada saat ini.
 
Dan yang dimaksud rasionalisasi disana adalah ketika kearifan lokal yang ada itu diterjemahkan kepada hal-hal yang lebih rasional. Contohnya ketika masyarakat kuningan begitu menjaga ikan dewa, orang-orang yang teracuni oleh paham westernisasi akan menganggap "memang sedewa apa sih ikan dewa?" tetapi kalau kita melakukan rasionalisasi versi Cak Nun kita akan berfikir bahwa "bisa saja masyarakat menjaga ikan tersebut dengan sungguh bertujuan untuk kelestarian ikan dewa, karena ikan dewa tidak bisa ditemukan di sembarang tempat" itu merupakan rasionalisasi-rasionalisasi yang harus dilakukan ketimbang kita meracuni pikiran atau paradigma kita dengan pola berpikir westernisasi. Selanjutnya adalah peneguhan prinsip kearifan lokal tanpa menolak modernisasi, karena berfikir kritis itu penting. 

Diskusi Kajian
Pertanyaan:
Apasih Urgensinya kesadaran kritis dengan generasi saat ini?
Kalo ditanya urgent sudah ada, tidak akan berubah apabila kita tidak menyadarkan pemikiran kritis.
Apakah harus ada penyeimbangan antara urgensi pemikiran kritis dengan variabel-variabel lain?
penyeimbangan harus dilakukan, menjadi orang yg ada di tahap kritis sangat melelahkan, Tapi jangan sampe karena kelelahan jadi punya pemikiran yg apa-apa memang sudah ada sistemnya. Sangat wajar, soalnya kadang kala ketika kita merasa benar belum tentu itu benar, kita harus lebih berefleksi lagi, jangan diiringi oleh dalih-dalih yg dapat melemahkan pemikiran kritis itu sendiri
 
Menurut kang jamal kesadaran kritis untuk generasi saat ini sangat berperan penting, dalam meningkatkan kesadaran kritis bisa dilakukan dengan membaca, membaca buku dan realita
​Sebetuknya banyak cara untuk meningkatkan cara membangun kesadaran kritis. Cara Meningkatkan/Membangun Pemikiran Kritis
1. Membaca
2. Sering berdiskusi
3. Melakukan kerja yg berhubungan dengan masyarakat
4. Jadi orang yg tidak mudah percayaan, tapi dibarengi dengan keinginan tahuan.
 
Notulensi Divisi Keilmuan
Cirebon, 4 April 2021, 15.03
 
Penulis ; Astri Wulandari
#Notulensikajian2

Komentar

Postingan Populer